Kota Tangsel NEWS

Damai Hari Lubis Sebut New Normal Sebagai Bentuk Kedunguan Baru

Damai Hari Lubis
Damai Hari Lubis sebut New Normal sebagai bentuk kedunguan baru. (isitmiewaa)

‘Damai Hari Lubis mempertanyakan ‘Kenormalan Baru ‘, apakah dapat dimaknai bahwa konteks new normal? Sedangkan new normal diterapkan di tengah kondisi masih terjadi wabah? Jika demikian maka praktek kebijakan ini memprioritaskan ekonomi di atas kesehatan.

Demikian sebut pengacara dan aktivis 212 , Damai Hari Lubis dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/5).

“Kepentingan kesehatan bila dikalahkan dengan kepentingan ekonomi, itu artinya bahwa new normal sebagai bentuk dari kezaliman dari herd immunity. Ini sama saja akan mengorbankan jutaan nyawa rakyat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Damai mengatakan, wacana itu sebagai pembukaan mall mewah dengan andalkan jaga jarak dan masker. Jika demikian dapat diartikan sebagai bentuk kedunguan baru.

Lubis  meminta kepada masyarakat agar tidak pergi ke tempat pusat perbelanjaan atau mall.

“Tidak simpan uang di bank aseng dan asing. Cukup di bank pemerintah milik negara,” katanya.

Menurutnya, bentuk bagaimana pemerintah bisa  menggerakkan masyarakat untuk menyimpan uang di bank pemerintah dan tidak ke mall.

Akan lebih baik dilakukan dengan kehidupan normal, memadukan norma agama dan aturan kesehatan. Dengan demikian rohani dan jasmani menjadi kuat untuk menghadapi dan mengatasi wabah,” kilahnya.

Sementara itu, dari kota Mekah, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab, Jumat (29/5) juga mengkritisi wacana new normal versi pemerintah.

Menurut Habib Rizieq, agar Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengingatkan pemerintah, agar DPR dan pemerintah duduk bersama untuk mengatasi wabah corona. Bila pemerintah tetap ngotot dengan versinya, itu sama saja pemerintah melanggar konstitusi negara.

Habieb Rizieq juga mewanti-wanti, jangan sampai penerapan itu sebatas memprioritaskan ekonomi daripada kesehatan rakyat.

“Jangan sampai new normal yang didengungkan hanya untuk menyenangkan pengusaha besar seperti dengan pembukaan mal. Sementara pedagang kecil di pasar-pasar tradisional masih dilarang beroperasi,” pungkas Habib Rizieq.