Kota Tangsel NEWS

Rusuh di AS, Gegara Protes Warga Atas Penangkapan George Floyd Berujung Maut

Rusuh bermula dari kematian George Floyd pada awal pekan ini, sehingga memunculkan gelombang demonstrasi di AS, di mana massa menyerukan agar polisi tak lagi memakai kekerasan. Floyd adalah pria kulit hitam tak bersenjata yang tewas pada Senin (25/5/2020). Setelah polisi Minneapolis membekuknya di sebuah toko.

Dalam video yang di ungguh channel youtube ABC News, terlihat salah satu polisi, Derek Chauvin, menindihnya selama delapan menit di mana George Floyd sempat terekam berteriak “aku tak bisa bernapas”.

“Dalam 36 jam terakhir ini pikiran saya berkecamuk, dengan satu pertanyaan fundamental: mengapa orang yang membunuh George Floyd tidak dipenjara? Saya tidak melihat ancaman dalam penangkapan itu. Saya tidak melihat isyarat apapun yang membuat perlunya diambil tindakan keras seperti itu,” ujarnya.

Berdasarkan video yang dilihatnya, Frey menilai Derek Chauvin, petugas polisi berkulit putih yang memborgol, menelikung dan menekan lututnya di leher Flyod hingga ia meninggal, seharusnya dituntut di muka hukum.

Hal serupa disampaikan pengacara keluarga Floyd, Benjamin Crump.

“Kita ingin agar mereka segera ditangkap karena kami melihat mereka telah membunuh George Floyd, ketika ia dalam keadaan terborgol, menghadap ke tanah dan mereka meletakkan lutut mereka di lehernya sehingga ia tidak dapat bernafas. Jadi keluarga tidak pernah sungkan menyampaikan apa yang mereka mau. Mereka ingin polisi-polisi itu ditangkap dan dihukum karena membunuh George Flyod.”

Upaya Walikota Minneapolis Jacob Frey mendinginkan suasana tidak membuahkan hasil. Demonstrasi dan menjadi rusuh mengoyak kotanya. Kamis pagi Frey kembali memohon di Twitter “Minneapolis, jangan biarkan tragedi melahirkan lebih banyak tragedi,”

Editor: Albayan